محافظة على قديم الصالح والاخذ على جديد الاصلح

Sholawat Badawiyah Shughro

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Dengan niat mengharap ridlo Allah subhanahu wa ta'ala dan membantu kepada sesama yang membutuhkan. Pada kesempatan ini saya "Al-Fakir" akan meng-ijazahkan sebuah sholawat yang bernama “Sholawat Badawiyah Shughro” (ada yang mengatakan sholawat nurul anwar, sholawat mukhtar, dll). Sholawat ini adalah salah satu peninggalan salah seorang wali qutub yakni Syeikh Ahmad Al-Badawi. Ijazah sholawat ini saya dapatkan dari guru saya yaitu Kyai Muhammad Yusuf Cisoka, dan Alhamdulillah beliau juga telah memberi kewenangan kepada saya untuk bisa meng-ijazahkannya kembali. Sholawat ini sangat banyak sekali faidahnya apabila di amalkan secara istiqomah (kontinyu), Insya Allah di antaranya adalah:

- untuk menghilangkan berbagai macam bahaya dari dirinya
- mendatangkan rizqi untuk menjauhkan dirinya dari kefakiran
- membebaskan diri dari keterlibatan perkara dengan penguasa
- dan lain sebagainya

Cara pengamalannya cukup di baca XX setelah sholat 5 waktu, tanpa puasa (tanda XX sengaja saya rahasiakan, anda akan tau setelah ber-ijazah)

Silahkan bagi anda yang berminat ijazah, hubungi saya di No. Telp. 085959594773 (XL) atau bisa juga lewat BBM, dan ini pin saya 2928F440

Bagi yang telah ijazah silahkan diamalkan dan dawamkan semoga amalan ini bermanfaat buat anda. Amiin Ya Allah. Dan Insya Allah saya akan bantu dengan doa

Sekian dari saya

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hilangnya Faktor Pencegah Shalat

Faktor Pencegah shalat seperti gila, kerasukan jin, lebih-lebih darah haid, disamping datangnya tidak bisa diprediksi dan juga berakhirnya sewaktu-waktu bisa terjadi. Bahkan tak jarang tiga hal tersebut hilang ketika pada saat waktu yang hanya cukup melakukan Takbirat Al-Ihram. Jika demikian, apakah masih dituntut untuk mengerjakan shalat?

Jawab: Tetap berkewajiban melakukan shalat tersebut, serta meng-qadla’ shalat sebelumnya, jika bisa di-jama’.

Referensi: Hasyita Qalyubi wa ‘Amirah, Juz I hal. 140

وَلَوْ زَالَتْ هَذِهِ الْأَسْبَابُ أَيْ الْكُفْرُ وَالصِّبَا وَالْحَيْضُ وَالنِّفَاسُ وَالْجُنُونُ وَالْإِغْمَاءُ وَبَقِيَ مِنْ الْوَقْتِ تَكْبِيرَةٌ أَيْ قَدْرُهَا وَجَبَتْ الصَّلَاةُ لِإِدْرَاكِ جُزْءٍ مِنْ الْوَقْتِ كَمَا يَجِبُ عَلَى الْمُسَافِرِ الْإِتْمَامُ بِاقْتِدَائِهِ بِمُقِيمٍ فِي جُزْءٍ مِنْ الصَّلَاةِ وَفِي قَوْلٍ: يُشْتَرَطُ رَكْعَةٌ أَخَفُّ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ أَحَدٌ كَمَا أَنَّ الْجُمُعَةَ لَا تُدْرَكُ بِأَقَلَّ مِنْ رَكْعَةٍ وَالْأَظْهَرُ عَلَى الْأَوَّلِ وُجُوبُ الظُّهْرِ بِإِدْرَاكِ تَكْبِيرَةِ آخِرِ وَقْتِ الْعَصْرِ وَ وُجُوبُ الْمَغْرِبِ بِإِدْرَاكِ تَكْبِيرَةِ آخِرِ وَقْتِ الْعِشَاءِ لِأَنَّ وَقْتَ الثَّانِيَةِ وَقْتٌ لِلْأُولَى فِي جَوَازِ الْجَمْعِ فَكَذَا فِي الْوُجُوبِ. وَالثَّانِي لَا تَجِبُ الظُّهْرُ وَالْمَغْرِبُ بِمَا ذُكِرَ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ زِيَادَةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ لِلظُّهْرِ فِي الْمُقِيمِ وَرَكْعَتَيْنِ فِي الْمُسَافِرِ وَثَلَاثٍ لِلْمَغْرِبِ لِأَنَّ جَمْعَ الصَّلَاتَيْنِ الْمُلْحَقَ بِهِ إنَّمَا يَتَحَقَّقُ إذَا تَمَّتْ الْأُولَى وَشَرَعَ فِي الثَّانِيَةِ فِي الْوَقْتِ وَلَا تَجِبُ وَاحِدَةٌ مِنْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ وَالْعِشَاءِ بِإِدْرَاكِ جُزْءٍ مِمَّا بَعْدَهَا لِانْتِفَاءِ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا وَلَا يُشْتَرَطُ فِي الْوُجُوبِ إدْرَاكُ زَمَنِ الطَّهَارَةِ وَيُشْتَرَطُ فِيهِ امْتِدَادُ السَّلَامَةِ مِنْ الْمَوَانِعِ زَمَنَ إمْكَانِ الطَّهَارَةِ وَالصَّلَاةِ. اھ

Wallahu A’lamu Bis-showaab

Sumber: Kang santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 93

Datangnya Faktor Pencegah Shalat

Haidl dan penyakit epilepsi adalah dua hal yang dapat mencegah untuk melakukan ibadah shalat. Namun yang menjadi masalah, bila darah haid atau penyakit epilepsi datang pada saat waktu sudah masuk, sementara belum melakukan shalat, apakah masih berkewajiban meng-qadha’ shalatnya?

Jawab: Harus di-qadla’-i, jika waktu yang dilewatkan tersebut kira-kira cukup digunakan bersuci dan mengerjakan shalat bagi دائم الحدث

Referensi: Sulam At-Taufiq, Juz I hal, 72

فَإِنْ طَرَأَ مَانِعٌ) مِنْ مَوَانِعِهَا (كَحَيْضٍ) أَوْ جُنُوْنٍ أَوْ إِغْمَاءٍ وَكَانَ طُرُوُّهُ (بَعْدَ مَا مَضَى مِنْ) أَوَّلِ (وَقْتِهَا مَا) أَىْ زَمَنٌ (يَسَعُهَا) أَيْ يَسَعُ أَرْكَانَهَا فَقَطْ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُ الطُّهْرِ عَلَى الْوَقْتِ كَسَلِمٍ غَيْرِ مُتَيَمِّمٍ وَبَعْدَ أَنْ يَمْضِيَ مِنْهُ مَا يَسَعُهَا (وَطُهْرَهَا) بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ لاَ يُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُهُ (لِنَحْوِ سَلِسٍ) بِكَسْرِاللاَّمِ وَفَتْحِهَا كَمُتَيَمِّمٍ (لَزِمَهُ) بَعْدَ زَوَالِ الْمَانِعِ (قَضَاؤُهَا) أَيْ قَضَاءُ صَلاَةِ ذَلِكَ الْوَقْتِ لإِدْرَاكِهِ مِنْ وَقْتِهَا مَا يُمْكِنُهُ فِعْلُهَا فِيْهِ فَلاَ تَسْقُطُ بِمَا طَرَأَ اهـ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 92

Qadla' Shalat Wanita Yang Menggugurkan Kandungan

Entah karena apa, perempuan hamil muda menggugurkan kandungannya dengan minum obat. Apakah shalat yang ditinggalkan pada saat keluar darah nifas setelah menggugurkan kandungannya wajib di-qadla’?

Jawab: Tidak wajib qadla’, karena tidak wajibnya qadla’ sebab nifas atau haid merupakan ‘azimah, yakni walaupun keluarnya darah ada unsur maksiat, tetap tidak wajib qadla’.

Referensi: Al-Majmu’, Juz III hal. 10

وَلَوْ شَرِبَتْ دَوَاءً لِلْحَيْضِ فَحَاضَتْ لَمْ يَلْزَمْهَا الْقَضَاءُ وَكَذَا لَوْ شَرِبَتْ دَوَاءً لِتُلْقِيَ الْجَنِينَ فَأَلْقَتْهُ وَنَفِسَتْ لَمْ يَلْزَمْهَا قَضَاءُ صَلَوَاتِ مُدَّةِ النِّفَاسِ عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْوَجْهَيْنِ لِأَنَّ سُقُوطَ الْقَضَاءِ مِنْ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ عَزِيمَةٌ كَمَا سَبَقَ. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 92

Qadla’ Shalatnya Orang Yang Dibius

Ketika pasien diperkirakan tidak kuat menahan rasa sakit, biasanya sebelum dilakukan operasi terlebih dahulu pasien diberi obat bius, supaya tidak sadarkan diri. Apakah bagi dia wajib meng-qadla’ shalat yang ditinggalkan akibat pembiusan tersebut?

Jawab: Tidak wajib, karena pembiusan yang berakibat hilangnya akal dalam rangka pengobatan, hukumnya diperbolehkan.

Referensi: Al-Majmu’, Juz III hal. 8

فَرْعٌ) قَالَ أَصْحَابُنَا يَجُوزُ شُرْبُ الدَّوَاءِ الْمُزِيلِ لِلْعَقْلِ لِلْحَاجَةِ كَمَا أَشَارَ إلَيْهِ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ شُرْبِ دَوَاءٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ وَإِذَا زَالَ عَقْلُهُ وَالْحَالَةُ هَذِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ قَضَاءُ الصَّلَوَاتِ بَعْدَ الْإِفَاقَةِ لِأَنَّهُ زَالَ بِسَبَبٍ غَيْرِ مُحَرَّمٍ وَلَوْ اُحْتِيجَ فِي قَطْعِ يَدِهِ الْمُتَآكِلَةِ إلَى تَعَاطِي مَا يُزِيلُ عَقْلَهُ فَوَجْهَانِ أَصَحُّهُمَا جَوَازُهُ. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 92

Penggunaan Bejana yang Haram dan yang Boleh Dipakai


Penggunaan Bejana yang Haram dan yang Boleh Dipakai

Dalam pasal ini diterangkan tentang bejana (wadah) yang haram dipakai dan yang tidak boleh dipakai.

Bagi pria maupun wanita dalam waktu lapang (bukan darurat) diharamkan menggunakan bejana (wadah) yang terbuat dari emas atau perak.

Seperti halnya memakai wadah (dari emas dan perak) maka haram pula membuatnya walaupun tidak dipakai, baik dari logam, emas atau perak. Demikian menurut pendapat yang shahih.

Juga dilarang menggunakan wadah yang disepuh dengan kedua logam tersebut kalau dalam proses penyepuhannya melalui pembakaran api.

Lain halnya dengan bejana (wadah) yang terbuat dari logam selain emas dan perak, walau indah tidak/haram, misalnya wadah yang diproduk dari bahan yakut.

Dan haram hukumnya menggunakan wadah yang dihiasi dengan perak besar, yang biasanya dibuat sebagai perhiasan. Tetapi kalau memang hal itu benar-benar dibutuhkan, maka tidak dilarang meskipun makruh menggunakannya. Dan tidak pula dilarang untuk perhiasan, kalau hiasannya itu kecil, tetapi hukumnya makruh. Bahkan ketika (benar-benar membutuhkan) tidak dihukumi makruh. Adapun dihiasi dengan menggunakan logam emas, mutlak terlarang. Demikian pendapat yang dianggap shahih oleh Imam Nawawi.

Referensi: Fathul Qorib pada Hamisyi Qut Al-Habib Al-Ghorib, hal. 12

فصل) في بيان ما يحرم استعماله من الأواني وما يجوز وبدأ بالأول فقال (ولا يجوز) في غير ضرورة لرجل أو امرأة (استعمال) شيء (من أواني الذهب والفضة) لا في أكل ولا في شرب ولا غيرهما وكما يحرم استعمال ما ذكر يحرم اتخاذه من غير استعمال في الأصح ويحرم أيضا الإناء المَطْلِيّ بذهب أو فضة إن حصل من الطِلاَء شيءٌ بعرضه على النار (ويجوز استعمال) إناء (غيرهما) أي غير الذهب والفضة (من الأواني) النفيسة كإناء ياقوت ويحرم الإناء المضبب بضبة فضة كبيرة عرفًا لزينة فإن كانت كبيرة لحاجة جاز مع الكراهة أو صغيرة عرفا لزينة كرهت أو لحاجة فلا تكره أما ضبة الذهب فتحرم مطلقا كما صححه النووي. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Meninggal Dalam Keadaan Puasa Giginya Disiwaki

Meninggal Dalam Keadaan Puasa Giginya Disiwaki

Jika seseorang meninggal dalam keadaan berpuasa. Apakah makruh kalau disiwaki?

Jawab: Tidak makruh, karena hukum makruh berlaku disaat masih hidup. Sementara menurut Imam Ar-Romli hukumnya haram. Sebab bau mulut orang yang meninggal disaat berpuasa disamakan dengan darahnya orang yang mati syahid (tidak boleh dihilangkan).

Referensi:
 
1. Tuhfatul Muhtaj, Juz I hal. 223

بَعْدَ الزَّوَالِ) خَرَجَ بِهِ مَا لَوْ مَاتَ فَلَا يُكْرَهُ؛ لِأَنَّ الصَّوْمَ انْقَطَعَ بِالْمَوْتِ وَنُقِلَ عَنْ فَتَاوَى الشَّارِحِ م ر مَا يُوَافِقُهُ ع ش عَلَى م ر وَفِي حَاشِيَتِهِ هُنَا أَيْ عَلَى الْمَنْهَجِ مَا نَصُّهُ فَرْعٌ مَاتَ الصَّائِمُ بَعْدَ الزَّوَالِ هَلْ يَحْرُمُ عَلَى الْغَاسِلِ إزَالَةُ خُلُوفِهِ بِسِوَاكٍ وَقِيَاسُ دَمِ الشَّهِيدِ الْحُرْمَةُ وَقَالَ بِهِ الرَّمْلِيُّ اهـ بُجَيْرِمِيٌّ وَيَأْتِي عَنْ شَيْخِنَا مِثْلُهُ
 
2. Bughyatul Mustarsyidin, hal. 31

لو مات الصائم بعد الزوال حرم إزالة خلوفه بالسواك قياسا على دم الشهيد قاله م ر اھ بج

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 34

Menghilangkan Bau Mulut Dengan Jari Tangan

Menghilangkan Bau Mulut Dengan Jari Tangan

Bersiwak atau menggosok gigi bagi orang yang puasa hukumnya makruh, sebab akan menghilangkan bau mulutnya. Apakah menghilangkan bau mulut dengan berkumur disertai menggosok gigi dengan jari tetap dimakruhkan bagi yang berpuasa?

Jawab: Ya, hukumnya makruh.

Referensi: Tuhfatul Muhtaj, Juz I hal. 224

تَنْبِيهٌ) هَلْ تُكْرَهُ إزَالَةُ الْخُلُوفِ بَعْدَ الزَّوَالِ بِغَيْرِ السِّوَاكِ كَأُصْبُعِهِ الْخَشِنَةِ الْمُتَّصِلَةِ لِأَنَّ السِّوَاكَ لَمْ يُكْرَهْ لِعَيْنِهِ بَلْ لِإِزَالَتِهِ لَهُ كَمَا تَقَرَّرَ فَكَانَ مَلْحَظُ الْكَرَاهَةِ زَوَالَهُ وَهُوَ أَعَمُّ مِنْ أَنْ يَكُونَ بِسِوَاكٍ أَوْ بِغَيْرِهِ أَوَّلًا كَمَا دَلَّ عَلَيْهِ ظَاهِرُ تَقْيِيدِهِمْ إزَالَتَهُ بِالسِّوَاكِ وَإِلَّا لَقَالُوا هُنَا أَوْ فِي الصَّوْمِ يُكْرَهُ لِلصَّائِمِ إزَالَةُ الْخُلُوفِ بِسِوَاكٍ أَوْ غَيْرِهِ كُلٌّ مُحْتَمَلٌ وَالْأَقْرَبُ لِلْمُدْرَكِ الْأَوَّلُ وَلِكَلَامِهِمْ الثَّانِي فَتَأَمَّلْهُ. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 33

Puasa Sunnah Menggunakan Siwak

Puasa Sunnah Menggunakan Siwak

Dalam literatur klasik diterangkan, bahwa orang yang berpuasa ketika telah masuk waktu Zhuhur, makruh bersiwakan. Apakah hukum makruh bersiwakan juga berlaku bagi orang yang berpuasa sunnah?

Jawab: Ya, tetap dimakruhkan.

Referensi: Al-Majmu’, Juz I hal. 331

وَالْمَشْهُورُ الْكَرَاهَةُ وَسَوَاءٌ فِيهِ صَوْمُ الْفَرْضِ وَالنَّفَلِ وَتَبْقَيْ الْكَرَاهَةُ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ حَتَّى يُفْطِرَ قَالَ أَصْحَابُنَا وَإِنَّمَا فَرَّقْنَا بَيْنَ مَا قَبْلَ الزَّوَالِ وَبَعْدَهُ لِأَنَّ بَعْدَ الزَّوَالِ يَظْهَرُ كَوْنُ الخلوف من خلو المعدة بسبب الصوم لامن الطَّعَامِ الشَّاغِلِ لِلْمَعِدَةِ بِخِلَافِ مَا قَبْلَ الزَّوَالِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 33

Bangun Tidur Menggosok Gigi Bagi Orang Puasa

Bangun Tidur Menggosok Gigi Bagi Orang Puasa

Sudah hal biasa bagi orang yang sedang berpuasa mulutnya berbau tidak sedap. Lebih-lebih jika bangun tidur. Apakah menggosok gigi setelah tergelincirnya matahari untuk menghilangkan bau mulut yang disebabkan tidur dihukumi makruh bagi orang yang berpuasa?

Jawab: Tidak dimakruhkan.

Referensi: Asna Al-Matholib, Juz I hal. 36

التَّقْيِيدُ بِمَا بَعْدَ الزَّوَالِ لِلِاحْتِرَازِ عَمَّا قَبْلَهُ فَإِنَّهُ لَا يُكْرَهُ لِحَدِيثِ السَّمْعَانِيِّ وَلِأَنَّ التَّغَيُّرَ إذْ ذَاكَ يَكُونُ مِنْ أَثَرِ الطَّعَامِ وَبَعْدَ الزَّوَالِ يَكُونُ بِسَبَبِ الصِّيَامِ فَهُوَ الْمَشْهُودُ لَهُ بِالطِّيبِ هَكَذَا ذَكَرَهُ الرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ وَيَلْزَمُ مِنْهُ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ مَنْ يَتَسَحَّرُ وَبَيْنَ مَنْ لَمْ يَتَسَحَّرْ وَبَيْنَ مَنْ يَتَنَاوَلُ بِاللَّيْلِ شَيْئًا وَبَيْنَ غَيْرِهِ وَلِهَذَا قَالَ الطَّبَرِيُّ فِي شَرْحِ التَّنْبِيهِ لَوْ تَغَيَّرَ فَمُهُ بَعْدَ الزَّوَالِ بِسَبَبٍ آخَرَ كَنَوْمٍ أَوْ وُصُولِ شَيْءٍ كَرِيهِ الرِّيحِ إلَى فَمِهِ فَاسْتَاكَ لِذَلِكَ لَمْ يُكْرَهْ ج

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 32