محافظة على قديم الصالح والاخذ على جديد الاصلح
Tampilkan postingan dengan label Wudlu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wudlu. Tampilkan semua postingan

Pembasuhan Rambut Gondrong

Pembasuhan Rambut Gondrong

Rambut merupakan sebuah mahkota bagi mereka yang menganggapnya. Tak heran, para pemuja rambut rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk memodif rambutnya. Sementara bagi mereka yang ingin bergaya tapi uang tak punya, cukup meng-gondrong-kan rambutnya. Apakah mengusap ujung rambut yang panjang (jawa; gondrong) dapat mencukupi?

Jawab: Tidak dapat mencukupi, kecuali jika rambut itu diulur tidak keluar dari batas kepala. Untuk kejelasannya adalah:
  • Rambut kepala yang bagian depan dianggap masih dalam batas kepala jika rambut tersebut diulur ke bawah, maka tidak melebihi janggut.
  • Rambut kepala bagian kanan dan kiri dianggap masih dalam batas kepala jika rambut itu diulur ke bawah, tidak melebihi pundak.
  • Sedangkan rambut kepala bagian belakang dianggap masih dalam batas kepala jika rambut tersebut ke bawah, maka tidak melebihi tengkuk.
Referensi: Tausyeh ‘ala Ibnu Qosim, hal. 16

أَوْ مَسْحُ بَعْضِ شَعْرٍ فِيْ حَدِّ الرَّأْسِ وَلوْ بَعْضَ شَعْرَةٍ وَاحِدَةٍ بِأَن لاَّ يَخْرُجَ بِالْمَدِّ عَنْهُ مِنْ جِهَةِ نُزُوْلِهِ فَشَعْرُ النَّاصِيَةِ جِهَةُ نُزُوْلِهِ الْوَجْهُ وَشَعْرُ القَرْنَيْنِ جِهَةُ نُزُوْلِهِمَا الْمَنْكِبَانِ وَشَعْرُ الْقَذَالِ أَيْ مُأَخِّرِ الرَّأْسِ جِهَةُ نُزُوْلِهِ الْقَفَا فَمَتَى خَرَجَ بِالْمَدِّ عَنْ حَدِّ الرَّأْسِ مِنْ جِهَةِ اسْتِرْسَالِهِ لَمْ يَجُزْ الْمَسْحُ عَلَيْهِ إِنْ مَسَحَهُ وَهُوَ فِيْ حَدِّ الرَّأْسِ بِسَبَبِ كَوْنِهِ مَعْقُوْدًا أَوْ مُجْعِدًا مَثَلاً. اهـ

Wallahu A’lamu Bishowaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 14

Tiga Basuhan Kedua Tangan Tidak Harus Tertib

Tiga Basuhan Kedua Tangan Tidak Harus Tertib

Termasuk dari kesunahan wudlu adalah membasuh tiap-tiap anggota sampai tiga basuhan. Hanya saja sedikit perlu ketegasan terkait ketentuan tiga basuhan kedua tangan, apakah harus dibasuh satu persatu ataukah boleh langsung bersamaan. Apakah kesunahan membasuh kedua tangan sampai tiga kali disyaratkan harus tertib, yakni mendahulukan tangan kanan sebelum tangan kiri?

Jawab: Tidak harus tertib.

Referensi: Hasyiyah Al-Jamal, Juz I hal. 128

ثم رأيت في سم على حج ما نصه وفي قوله يعني شرح الروض كاليدين إشارة إلى أن تثليث اليدين لا يتوقف على تثليث إحداهما قبل الأخرى بل لو ثلثهما معا أي أو مرتبا أجزأ ذلك فتأمله وهذا هو المتجه إذ لا يشترط ترتيب. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 13

Dilema Wudlu Di Kamar Mandi

Dilema Wudlu Di Kamar Mandi

Banyak sekali doa dan dzikir yang dianjurkan dalam bersuci, baik itu ketika mandi besar, ataupun wudlu. Namun yang menjadi dilema ketika bersuci dilakukan ditempat yang pernah digunakan buang hajat, seperti kamar mandi, WC, dan sebagainya. Yang mana ditempat tersebut dilarang membaca doa ataupun dzikir. Apakah doa ataupun dzikir yang dianjurkan dalam bersuci tetap sunah dilakukan dalam kasus diatas?

Jawab: Tetap sunah, namun hanya di dalam hati.

Referensi:

1. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khathib, Juz I hal. 194

وَلَا يَتَكَلَّمُ عَلَى الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ أَيْ يَسْكُتُ حَالَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ فَلَا يَتَكَلَّمُ بِذِكْرٍ وَلَا غَيْرِهِ أَيْ يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ قَوْلُهُ حَالَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ لَيْسَ قَيْدًا فَالْمُعْتَمَدُ الْكَرَاهَةُ مُطْلَقًا بِمُجَرَّدِ الدُّخُولِ وَلَوْ لِغَيْرِ قَضَائِهَا ، كَأَنْ دَخَلَ لِوَضْعِ إبْرِيقٍ مَثَلًا أَوْ لِسِرَاجٍ أَوْ طَالَ دِهْلِيزُهُ. اھ

2. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khathib, Juz I hal. 194

قَوْلُهُ فلو عطس حَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبِهِ أَيْ وَيُثَابُ عَلَيْهِ وَقَوْلُهُمْ الذِّكْرُ الْقَلْبِيُّ لَا ثَوَابَ فِيهِ مَحْمُولٌ عَلَى مَا لَمْ يُطْلَبْ بِخُصُوصِهِ وَهَذَا مَطْلُوبٌ فِيهِ بِخُصُوصِهِ ع ش عَلَى م ر قَالَ بَعْضُهُمْ يُؤْخَذُ مِنْ هَذَا صِحَّةُ مَا ذَهَبَ إلَيْهِ السَّادَةُ الصُّوفِيَّةُ مِنْ جَوَازِ الذِّكْرِ بِالْقَلْبِ وَالثَّوَابِ عَلَيْهِ بَلْ هُوَ أَفْضَلُ مِنْ ذِكْرِ اللِّسَانِ لِخُلُوصِهِ مِنْ الرِّيَاءِ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ ثَوَابٌ لَمَا أَمَرَ السَّادَةُ الْفُقَهَاءُ بِالْحَمْدِ بِهِ فِي الْمَوْضِعِ الْمَكْرُوهِ فِيهِ ذِكْرُ اللِّسَانِ وَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي يَنْبَغِي اعْتِقَادُهُ وَفِيهِ أَنَّ مَا قَالَهُ الْفُقَهَاءُ إنَّمَا هُوَ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يُكْرَهُ فِيهِ ذِكْرُ اللِّسَانِ. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 12

Membaca Basmalah Di Tengah Wudlu Karena Lupa

Membaca Basmalah Di Tengah Wudlu Karena Lupa

Salah dan lupa merupakan sifat fitrah manusia yang tidak bisa dihindari. Hanya saja dengan berhati-hati semua itu bisa diminimalisir. Sebut saja Kang Sotres yang sukanya grusa-grusu (ceroboh) dalam setiap tindakan termasuk ketika berwudlu. Bahkan kadang-kadang Ia tidak membaca basmalah disaat mau berwudlu, entah karena lupa atau memang disengaja. Jika pada permulaan wudlu sengaja atau lupa tidak membaca basmalah, apakah masih disunnahkan untuk membaca basmalah dipertengahan wudlu?

Jawab: Tetap disunnahkan, untuk lafadznya; بسم الله أوله وآخره . Atau cukup mengucapkan; بسم الله .

Referensi:

1. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khathib, Juz 1 hal. 160

فإن تركها سهوا أو عمدا أو في أول طعام كذلك أتى بها في أثنائه فيقول: بسم الله أوله وآخره لخبر: إذا أكل أحدكم فليذكر اسم الله تعالى فإن نسي أن يذكر اسم الله تعالى في أوله فليقل: بسم الله أوله وآخره رواه الترمذي وقال: حسن صحيح، ويقاس بالاكل الوضوء وبالنسيان العمد، ولا يسن أن يأتي بها بعد فراغ الوضوء لانقضائه. اھ

2. Hasyiyah Al-Jamal, Juz I hal. 123

قَوْلُهُ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ أَيْ بِعَيْنِ هَذَا اللَّفْظِ عَلَى مَا قَالَهُ بَعْضُهُمْ وَلَعَلَّ الْمُرَادَ بِأَوَّلِهِ مَا قَابَلَ الْآخِرَ حَتَّى يَشْمَلَ الْوَسَطَ أَوْ بِآخِرِهِ مَا قَابَلَ الْأَوَّلَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ وَهَذَا بِالنِّسْبَةِ لِلْأَكْمَلِ فَلَوْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ فَقَطْ كَفَى اهـ بِرْمَاوِيٌّ. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 12

Tata Cara Membasuh Wajah Secara Sempurna

Tata Cara Membasuh Wajah Secara Sempurna

 مالا يتم الواجب إلا به فهو واجب 

(Sesuatu yang tidak wajib menjadi sebuah kewajiban, jika menjadi penyempurna perkara wajib).

Itulah konsep yang di rumuskan oleh para ulama’. Oleh karenanya, keterangan diatas meliputi segala jenis ibadah termasuk membasuh anggota wudlu. Untuk kesempurnaan pembasuhan wajah, anggota bagian manakah yang harus dibasuh?

Jawab: Sebagian kepala, leher dan bagian dagu.

Referensi: Al-Majmu’, Juz 1 hal. 416

المسألة الثانية قال أصحابنا صاحب التتمة وآخرون يجب على المتوضئ غسل جزء من رأسه ورقبته وما تحت ذقنه مع الوجه لأنه لا يمكن استيعاب الوجه إلا بذلك كما يجب إمساك جزء من الليل في الصيام ليستوعب النهار. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 11

Waktu Disunnahkannya Tajdid Al-Wudlu

Waktu Disunnahkannya Tajdid Al-Wudlu

Walaupun masalah wudlu kayaknya bagi umat Islam termasuk masalah mudah yang biasa kita lakukan setiap setiap saat. Namun terkadang dikalangan orang awam terlalu apatis (masa bodoh) terhadap kesunnahan-kesunnahan wudlu, akibatnya tidak begitu paham kejelasan tatacaranya, seperti; masalah tajdid al-wudlu (memperbaharui wudlu).

1. Kapankah tajdid al-wudlu tersebut disunnahkan?

Jawab: Menurut pendapat yang paling kuat, tajdid al-wudlu disunnahkan jika wudlu pertama telah digunakan untuk melakukan shalat, meskipun hanya shalat sunnah.

Referensi: Bughyatul Mustarsyidin, hal. 29

 فَائِدَةٌ ) فِيْ اسْتِحْبَابِ تَجْدِيْدِ الْوُضُوْءِ خَمْسَةُ أَوْجُهٍ أَصَحُّهَا بَعْدَ أَنْ يُصَلِّيَ بِاْلأوَّلِ وَلَوْ نَفْلاً وَالثَّانِيْ بَعْدَ فَرْضٍ وَالثَّالِثُ بَعْدَمَا يُطْلَبُ لَهُ الْوُضُوْءُ وَالرَّابِعُ بَعْدَ صَلاَةٍ أَوْ سَجْدَةٍ أَوْ قِرَاءَةٍ فِيْ مُصْحَفٍ وَالْخَامِسُ مُطْلَقاً اهـ شَرْحُ الْمَهَذَّبِ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ يَحْرُمُ التَّجْدِيْدُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ صَلاَةً مَّا إِنْ قَصَدَ عِبَادَةً مُسْتَقِلَّةً وَقَالَ م ر يُكْرَهُ. اهـ

2. Cukupkah dalam wudlu kedua (tajdid al-wudlu) niat menghilangkan hadats, mengingat dia tidak berhadats?

Jawab: Tetap mencukupi menurut Imam Ibnu Hajar dan Ibnu ‘Imad

Referensi: Hasyiyah Al-Jamal, Juz 1 Juz hal.104

وَاعْتَمَدَ أَنَّ الْوُضُوءَ الْمُجَدَّدَ لاَ يُكْتَفَى فِيْهِ بِنِيَّةِ الرَّفْعِ أَوِاْلاسْتِبَاحَةِ خِلاَفًا لحج حَيْثُ اكْتَفَى بِذَلِكَ تَبَعًا لاِبْنِ الْعِمَادِ وَقَدْ تَقَدَّمَ أَيْضًا عَنِ اْلإسْنَوِيِّ قَالَ وَمِثْلُ مَا ذُكِرَ وُضُوْءُ الْجُنُبِ إذَا تَجَرَّدَتْ جَنَابَتُهُ لِمَا يُسْتَحَبُّ لَهُ الْوُضُوْءُ مِنْ نَوْمٍ أَوْ أَكْلٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ أَيْ فَلاَ تَكْفِيْهِ نِيَّةُ رَفْعِ الْحَدَثِ أَوِ اْلاسْتِبَاحَةُ وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ يَكْفِيْهِ فَرْضُ الْوُضُوءِ وَيُوَجَّهُ بِأَنَّهُ فَرْضٌ فِي الْجُمْلَةِ اهـ ح ل

Wallahu A’lamu Bish-showaab

(Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat)

Mengulangi Wudlu Karena Ragu-ragu

Mengulangi Wudlu Karena Ragu-ragu

Untuk menepis keraguan tentang batal dan tidaknya wudlu yang sudah dilakukan, seseorang mempunyai inisiatif melakukan wudlu kembali. Namun selesai berwudlu dia ingat, ternyata wudlu yang pertamanya sudah batal. Sahkah wudlunya yang kedua, mengingat ia melakukan wudlu disertai dengan ragu-ragu?

Jawab: Tidak sah, karena syarat dari niat harus dilakukan dengan mantap.

Referensi: Kifayatul Akhyar, Juz 1 hal. 19

 فَرْعٌ ) شَرْطُ النِّيَّةِ الْجَزْمُ فَلَوْ شَكَّ فِيْ أَنَّهُ مُحْدِثٌ فَتَوَضَّأَ مُحْتَاطاً ثُمَّ تَيَقَّنَ أَنَّهُ مُحْدِثٌ لَمْ يُعْتَدَّ بِوُضُوْئِهِ عَلَى اْلأَصَحِّ لاِنَّهُ تَوَضَّأَ مُتَرَدِّدًا وَلَوْ تَيَقَّنَ أَنَّهُ مُحْدِثٌ وَشَكَّ فِيْ أَنَّهُ تَطَهّرَ ثُمَّ بَانَ مُحْدِثًا أَجْزَأَهُ قَطْعاً لأنَّ اْلأَصْلَ بَقَاءُ الْحَدَثِ فَلاَ يَضُرُّ تَرَدُّدُهُ مَعَهُ فَقَوِيَ جَانِبُ النَّيَّةِ بِأَصْلِ الْحَدَثِ بِخِلاَفِ الصُّوْرَةِ اْلأُوْلَى وَاللهُ أَعْلَمُ. اهـ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

(Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat)

Air Sisa Wudlu Dibilas Dengan Handuk

Air Sisa Wudlu Dibilas Dengan Handuk

Merupakan hal yang lumrah, dimana setiap selesai mandi atau berwudlu’ sisa-sisa atau bekas air yang masih berada dianggota badan dibilas dengan handuk, entah karena faktor cuaca yang kurang kondusif atau mungkin karena kebiasaan. Apa hukum membersihkan bekas air wudlu dari anggota badan dengan semisal handuk? 

Jawab: Makruh, karena terkesan menghilangkan bekas-bekas ibadah, kecuali ada udzur.

Referensi: Hasyiyah Al-Bajuri, Juz I hal. 59

ومنها ترك التنشيف بلا عذر لأنه يزيل أثر العبادة, أما بعذر كبرد وخوف التصاق نجاسة وإرادة تيمم عقب الوضوء فلا كراهة وإن نشف فالأولى أن لايكون بطرف ثوبه ولا بذيله لما قيل إنه يورث الفقر والنسيان. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 25

Kecil-kecil Megang Al-Qur'an

Kecil-kecil Megang Al-Qur'an

Sering kita melihat, dimana anak-anak kecil yang baru belajar cara membaca Al-Qur’an, oleh para gurunya kurang diperhatikan dalam hal apakah anak itu punya wudlu atau tidak. Bagaimana hukum membiarkan anak-anak kecil yang sedang belajar ngaji menyentuh Al-Qur’an sementara mereka tidak mempunyai wudlu?

Jawab: Boleh, asalkan untuk tujuan belajar mengaji bukan yang lain.

Referensi: Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khathib, Juz 1 hal. 375

ولا يجب منع الصغير المميز من حمل المصحف واللوح للتعلم إذا كان محدثا ولو حدثا أكبر كما في فتاوى النووي لحاجة تعلمه ومشقة استمراره متطهرا بل يندب وقضية كلامهم أن محل ذلك في الحمل المتعلق بالدراسة. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 27

Kesunahan Wudlu Harus Diniati

Kesunahan Wudlu Harus Diniati

Niat termasuk syarat mutlak dari keabsahan sebuah ibadah adalah niat, tak terkecuali dalam wudlu, dimana niat merupakan rukun pertama yang harus dilakukan ketika membasuh muka. Apakah dalam melakukan kesunahan-kesunahan wudlu juga diperlukan niat?

Jawab: Ya, harus berniat untuk mendapatkan pahala kesunahan. Sedangkan waktunya, saat membasuh kedua telapak tangan.

Referensi:

1. Tuhfatul Muhtaj, Juz 1 hal. 199

وعبارة شيخنا ويندب أن ينوي سنن الوضوء عند غسل الكفين ليحصل له ثواب السنن التي قبل غسل الوجهين كغسل الكفين والمضمضة والاستنشاق ، فإن لم ينو هذه النية لم يحصل له ثوابها. اھ

2. Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khathib, Juz 1 hal. 159

والمراد بأول الوضوء أول غسل الكفين فينوي الوضوء ويسمي الله عنده بأن يقرن النية بالتسمية عند أول غسلهما ثم يتلفظ بالنية ثم يكمل غسلهما لأن التلفظ بالنية والتسمية سنة ولا يمكن أن يتلفظ بهما في زمن واحد. اھ

Wallahu A’lamu Bish-showaab

Sumber: Kang Santri, Menyingkap Problematika Umat, Juz I hal. 10